eXTReMe Tracker
if knowledge is power, then passion is the engine, body is the vehicle, and conscience is the driver

Blog ini sudah pindah ke http://www.nexusnexia.com

June 4, 2006

Prinsip ‘obliquity’

Filed under: Entrepreneurship, Complex Systems — itpin @ 8:22 am

Anda seorang orang tua yang ingin dicintai anak-anak Anda. Karena itu, Anda meminta mereka untuk mencintai Anda. Mereka justru semakin menjauh.

Anda seorang yang sedang mencari cinta sejati. Karena itu, Anda berusaha menampilkan diri Anda yang terbaik dan sebisa mungkin menutupi kekurangan Anda. Anda ingin menunjukkan bahwa Anda lebih istimewa dibanding kandidat lainnya. Cinta sejati justru tidak pernah datang.

Anda seorang pemilik usaha yang ingin mencapai sukses setinggi-tingginya. Anda berusaha mencari segala cara untuk menurunkan biaya dan menaikkan harga. Dalam jangka pendek, cara tersebut kelihatan berhasil, namun perlahan-lahan pelanggan mulai meninggalkan produk-produk Anda.

Anda seorang pencari kebahagiaan. Anda berusaha menciptakan lingkungan yang bisa memberi Anda kesenangan terus menerus. Anda justru merasa diri Anda semakin kosong dan tanpa tujuan.

Sementara itu, Anda melihat orang-orang yang kelihatannya tidak berupaya sekeras Anda justru berhasil menggapai apa yang Anda idam-idamkan.

Bila Anda (atau orang-orang yang Anda kenal) pernah mengalaminya, menurut John Kay, seorang ekonom terkemuka Inggris, hal itu adalah hasil dari prinsip obliquity. Kay berpendapat, hal-hal penting yang melibatkan partisipasi orang lain — seperti kekayaan berlimpah, cinta kasih, kebahagiaan — dan yang melibatkan sistem yang kompleks seperti kelestarian lingkungan hidup, lebih baik dicapai dengan cara-cara tidak langsung. Pencapaian yang dilakukan secara langsung, walau mungkin bisa memberikan sukses sesaat, namun dalam jangka panjang akan berbalik arah.

Sepintas pendapat tersebut kedengaran kurang masuk akal. Bukankah orang-orang yang berusaha kaya akan berusaha lebih keras dibanding orang yang tidak melakukan apa-apa? Bukankah orang yang secara spesifik mencari pasangan hidup akan memiliki probabilitas lebih tinggi untuk mendapatkan pendamping hidup?

Menurut Kay, dalam batas-batas tersebut, jawabannya adalah “YA”. Orang-orang yang berusaha untuk kaya secara rata-rata pasti lebih kaya dari yang tidak berusaha. Dan demikian juga untuk hal-hal lainnya. Namun, bila Anda ingin benar-benar kaya, benar-benar sukses, benar-benar bahagia, Anda tidak bisa mengejar tujuan tersebut secara langsung.

Lihat saja daftar orang-orang kaya versi Forbes atau Fortune. Bill Gates, yang selalu menempati ranking orang terkaya di dunia selama beberapa tahun terakhir, tidaklah menghabiskan waktu untuk menghitung penghasilannya setelah mendirikan Microsoft. Apa yang ada di pikirannya adalah membuat software yang lebih baik dan mengejar mimpinya untuk melihat setiap orang memiliki satu komputer. Demikian juga partnernya, Paul Allen. Setelah menjadi super milyuner, kedua orang ini tetap tidak mendewakan uang. Gates dan Allen adalah penyumbang aktif untuk organisasi-organisasi sosial. Meski saya sering tidak setuju dengan praktek monopoli Microsoft, saya bisa melihat kegiatan-kegiatan filantropis Gates dan Allen benar-benar tulus dan keluar dari lubuk hati terdalam mereka, bukan sekedar untuk membangun public image yang bagus. Pierre Omidyar dan Jeff Skoll, mendirikan eBay bukan karena berharap menjadi milyuner suatu saat nanti. Mereka melakukannya karena percaya pada kekuatan pasar bebas yang direplikasi di dunia maya. Baik Omidyar atau pun Skoll sekarang lebih aktif dalam dunia filantropis dibanding mengurusi eBay.

Dan orang kedua terkaya di dunia? Warren Buffett, sang investor nomor satu di US. Buffet sampai saat ini masih tinggal di rumahnya di Omaha yang sudah ditempati 50 tahun. Mobilnya juga masih mobil lama meski kekayaannya hanya bisa diimbangi oleh Gates. Buffett sendiri mengaku dia tidak tertarik dengan uangnya, tapi proses penciptaan nilai lewat perusahaan-perusahaan yang dibelinya. Pendiri perusahaan terbesar sejagad saat ini, Wal-Mart, Sam Walton juga sama sederhananya dengan Buffett. Namun dia mewarisi 5 orang terkaya di dunia.

Berbeda dengan pandangan umum, orang-orang yang super kaya tidak memikirkan uang, uang, dan uang. Bagi mereka, uang justru merupakan hasil sampingan dari pengejaran mimpi mereka dengan gairah dan kepercayaan. (Untuk para wiraswasta, kejarlah mimpi Anda, bukan uang.)

Dan siapa yang lebih berbahagia dan sukses menurut Anda: Bunda Theresa atau Paris Hilton? Dalai Lama atau Suharto? Negara paling bahagia sedunia? US? Prancis? Jepang? Australia? Italia? Bukan.. bukan.. Menurut World Values Surveys (WVS) yang dilakukan oleh University of Michigan dan hasilnya diakui paling akurat, 5 besar negara paling bahagia di dunia adalah: Nigeria, Meksiko, Venezuela, El Salvador, dan Puerto Rico. Indonesia? Kita menduduki papan tengah dan masih lebih baik dari beberapa negara maju lainnya seperti Italia, Jepang, dan Korea Selatan. Yang menarik dari ranking ini adalah: negara-negara yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, tidak terlibat konflik bersenjata, dan tidak terlalu materialistis adalah negara-negara paling bahagia di dunia. Negara-negara maju yang aman dan memiliki tunjangan sosial yang baik menyusul di belakang. Sementara negara-negara maju yang menunjukkan kompetisi yang tinggi atau hedonis seperti Jepang tidak memiliki ranking yang terlalu baik. Paling parah adalah negara-negara yang masih dilanda konflik bersenjata di dalam negeri atau dengan negara lain seperti Zimbabwe.

Prinsip obliquity ini masuk akal karena kita hidup di dunia yang digerakkan oleh sistem yang kebanyakan komponennya di luar kendali kita. Logika sederhana “Bila A lalu B” tidak laku di sini. Yang terjadi umumnya adalah: “Bila A, lalu B dan C; B mempengaruh C dan D; D mempengaruhi A, dst…” Belum lagi bila kita berhadapan dengan sesama manusia yang tingkah lakunya sukar diprediksi. Di sini, cara berpikir sistem (systems thinking) akan lebih membantu dibanding cara berpikir sebab akibat yang linier. Walau demikian, tidak ada jaminan, systems thinking sendiri akan mampu memberikan jawaban yang tepat untuk semua situasi.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk mencapai hal-hal penting tersebut? Saya jelas tidak memiliki jawabannya. Malah saya sering terjebak dalam cara berpikir sederhana yang mencelakakan dalam jangka panjang. John Kay juga tidak berani menawarkan jawaban. Tapi, hal-hal yang diajarkan oleh agama dan orang-orang bijak sejak ribuan tahun lalu mungkin bisa dijadikan titik awal (paling tidak, bila ajaran tersebut mampu bertahan ribuan tahun, pasti ada alasannya). Kenali dan jadilah diri sendiri. Bersikap jujur. Berilah sebelum meminta. Berilah cinta tanya syarat. Temukan tujuan hidupmu dan jalankan. Tidak mudah memang, tapi bisa jadi itu juga alasan mengapa sedikit dari kita yang bisa benar-benar mencapai hal-hal penting tersebut.

Mbah Maridjan, sang juru kunci Gunung Merapi, mungkin lebih bijak dari kita dan John Kay untuk urusan ini.

• • •
 

3 Comments »

  1. Artikel ini menarik,saya posting kembali dengan tetap menyebutkan sumbernya ( http://forum.max-studio.net/viewtopic.php?p=4682#4682 )

    saya juga tampilkan link url ke sini,

    bila tidak berkenan, mohon beritahu, akan saya remove dari forum tersebut

    Comment by Kukuh TW — June 6, 2006 @ 7:57 pm

  2. […] Sumber : Berpikir Holistik […]

    Pingback by Just Try To Be a Bloggrammer :: Kebahagiaan :: June :: 2006 — June 7, 2006 @ 6:20 pm

  3. Makanya, saya pikir skill terpenting yg perlu dimiliki dalam perjalanan keras menuju sukses hingga sesudahnya adl skill untuk bersyukur, hingga bener2 scr harafiah terasa nyaman di dada.

    dan ini adl skill yg mahal.

    Comment by Guntar — July 17, 2006 @ 12:40 pm

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.